Jumat, 18 September 2015

Laporan

Laporan
“MASJID MENARA KUDUS”
 
























Nama         : Hudzaifah abdus salaam
Kelas          : XI IPS 1
No. Abs     : 11



SMA 2 BAE KUDUS
Gondangmanis Kotak Pos 52 Telp. 431895, Fax : (0219) 4252060
Kudus 59301
Wabsite : www.sma2baekudus.sch.id ,Email : sma2bae_kudus@yahoo.com


BAB I
Pendahuluan

A. Latar Belakang

        Kota Kudus memiliki banyak objek-objek religi, salah satunya adalah Masjid Menara Kudus. Masjid Menara Kudus adalah aset penting kota Kudus yang harus dijaga dan dilestarikan, lebih lagi kita sebagai generasi muda harus ikut andil dalam hal tersebut.
        Namun masih ada warga masyarakat Kudus yang tidak tahu bagaimana sejarah Masjid Menara dan apa saja yang ada didalamnya. Oleh karena itu penulis akan menjelaskan tentang Masjid Menara Kudus walaupun masih ada banyak kekurangan.   



B. Rumusan Masalah

        Secara garis besar makalah ini membahas tentang “bagaimana peran museum kretek bagi perkembagan industri di kudus”.?





C. Tujuan

1.   Untuk mengetahui sejarah berdirinya museum kretek
2.   Untuk mengetahui apa saja yang ada dalam komplek museum kretek
3.   Untuk mengetahui dari mana asitektur bagunan di buat
4.   Untuk mengetahui peranan museum kretek
5.   Mengetahui pembuatan rokok kretek
6.   Perkembangan industry di kota kudus
                                                       

                    





                                










BAB II
Pembahasan


A. Sejarah Masjid Menara Kudus
       
          Suatu ketika Syekh Ja'far Shadiq (Sunan Kudus) berada di Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Wabah penyakit kudis tiba-tiba merajalela di tanah suci itu. Segala upaya pencegahan telah dilakukan, namun tidak ada hasilnya. Akhirnya, Amir (penguasa) Makkah meminta Syekh Ja'far Shadiq turun tangan mencegah wabah penyakit yang kian hari kian mengganas.

          Singkat cerita, Syekh Ja'far Shadiq berhasil menghentikan merebaknya penyakit kudis itu. Penguasa Makkah kemudian bermaksud memberinya hadiah, namun beliau menolak. Beliau hanya meminta jika berada di Palestina agar diizinkan mengambil sebuah batu dari Bait Al-Maqdis atau Al-Quds di Yerusalem. Amir Makkah pun mengizinkan. Ketika pulang ke Jawa, Syekh Ja'far Shadiq membawa batu itu dan dijadikan batu pertama dalam pembangunan masjid yang diberi nama Masjid Al-Aqsa.

         

          Masjid Al-Aqsa atau Masjid Menara Kudus didirikan oleh Sunan Kudus pada tahun 956 H atau 1549 M. Hal itu dapat diketahui dari batu prasasti  di atas mihrab masjid yang bertuliskan dari bahasa Arab. Sayangnya, tulisan pada batu tersebut sudah sulit dibaca karena banyak huruf yang rusak. Batu tersebut memiliki lebar 30 cm dan panjang 46 cm.

          Pada awal pembangunannya, tinggi Masjid Menara Kudus ± 13 meter. Setelah direnovasi, tingginya menjadi ± 18 meter. Pada tahun 1925 M, di bagian depan ditambah bangunan baru berupa serambi. Kemudian pada tanggal 5 November 1933 M, sebuah serambi dibangun kembali di depan serambi sebelumnya. Di atas serambi yang baru itu terdapat kubah besar bergaya arsitektur India. Penambahan ruang masjid terus dilakukan seiring dengan bertambah banyaknya jumlah jamaah. Bentuk asli dari Masjid Menara Kudus masih sukar untuk diketahui karena sudah mengalami beberapa perbaikan dan perluasan.
         






B. Arsitektur Bangunan Masjid Menara

Deskripsi :
              Masjid Menara Kudus ini terletak di Desa Kauman, Kabupaten Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Letak Masjid Menara Kudus ini cukup dekat dengan pusat Kota Kudus (alun-alun kota), yaitu berjarak sekitar ± 1,5 kilometer. Komplek Masjid Menara Kudus memiliki luas  ± 2400 m2. Bentuk asli bangunan masjid sukar untuk diketahui karena telah beberapa kali mengalami perbaikan dan perluasan. Bangunan yang ada di komplek Masjid Menara Kudus, antara lain : Menara, serambi, ruang utama, pawestren, dan bangunan lainnya










·       Masjid
          Masjid Menara Kudus ini memiliki 5 buah pintu sebelah kanan, dan 5 buah pintu sebelah kiri. Jendelanya semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri dari 5 buah, dan tiang besar di dalam masjid yang terbuat dari kayu jati ada 8 buah. Namun masjid ini tidak sesuai aslinya, lebih besar dari semula karena telah beberapa kali direnovasi. Di dalamnya terdapat kolam masjid atau "padasan" yang merupakan peninggalan kuno dan dijadikan sebagai tempat wudhu.
          Di dalam masjid terdapat 2 buah bendera berwarna hijau bergaris keemasan, terletak di kanan dan kiri tempat khatib membaca khutbah. Di serambi depan masjid terdapat sebuah pintu gapura, yang biasa disebut oleh penduduk sebagai "Lawang Kembar".
          Di komplek Masjid juga terdapat pancuran untuk wudhu yang berjumlah delapan buah. Di atas pancuran itu diletakkan arca. Jumlah delapan pancuran, konon mengadaptasi keyakinan Buddha, yakni ‘Delapan Jalan Kebenaran’ atau Asta Sanghika Marga.









·       Menara.
          Menara Kudus memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x 10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang kesemuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru serta berlukiskan masjid, manusia dengan unta dan pohon kurma. Sementara itu, 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Di dalam menara terdapat tangga yang terbuat dari kayu jati. Menara ini dihiasi pula hiasan yang menyerupai bukit kecil. Bangunan dan hiasannya jelas menunjukkan adanya hubungan dengan kesenian Hindu Jawa karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian: kaki, badan, dan puncak bangunan.
          Kaki dan badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya. Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang tanpa perekat semen. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan empat batang saka guru yang menopang dua tumpuk atap tajug.
         
         
          Pada bagian puncak atap tajug terdapat semacam mustaka (kepala) seperti pada puncak atap tumpang bangunan utama masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada unsur arsitektur Jawa-Hindu.





















·       Makam
               Selain masjid, di belakang masjid adalah komplek makam Kanjeng Sunan Kudus dan para keluarganya. Komplek-komplek makam tersebut terbagi-bagi dalam beberapa blok, dan tiap blok merupakan bagian tersendiri dari hubungannya terhadap Kanjeng Sunan. Ada blok para putera dan puteri Kanjeng Sunan, ada blok para Panglima perang dan blok paling besar adalah makam Kanjeng Sunan sendiri. Uniknya adalah semua pintu penghubung antar blok berbentuk gapura candi-candi. Tembok-tembok yang mengitarinya pun dari bata merah yang disusun berjenjang, ada yang menjorok ke dalam dan ke luar seperti layaknya bangunan candi. Panorama yang nampak adalah komplek pemakaman Islam namun bercorak Hindu.
·       Ruang utama
          Ruang utama ditopang oleh empat buah soko guru (tiang utama) dan empat buah soko rawa (tiang tambahan). Ada pintu yang terdapat di sisi barat dan timur ruang utama. Lantai ruang utama dari ubin.  Atap bangunan ruang utama berbentuk tumpang tiga dan ditutup oleh genteng merah. Pada puncak atap terdapat mustaka dari tembaga. Di dalam ruang utama terdapat mimbar dan mihrab. Mimbar ada dua buah yaitu di utara dan selatan. Relung mihrab berbentuk lengkung tapal kuda. Di kanan kiri mihrab terdapat jendela. Di atas mihrab terdapat inskripsi berhuruf Arab yang telah usang yang artinya kira­-kira “Masjid didirikan oleh Ja’far Shodiq pada tahun  956 H.”
·       Serambi
          Serambi Masjid Kudus berupa bangunan terbuka terbagi dua yaitu serambi depan dan serambi tengah. Pada serambi ini terdapat sebuah kori agung dengan tinggi ± 3 m. Kori Agung atau pembatas ruang yang terbuat dari kayu ukir merupakan pemisahkan antara serambi depan dengan serambi tengah. Bangunan serambi ini merupakan bangunan tambahan perluasan masjid. Hal ini terlihat pada bagian atas serambi terdapat sebuah kubah besar.
          Di sekelilingnya dihiasi tulisan kaligrafi Arab yang memuat nama-nama sahabat Nabi SAW, seperti para Khulafaurrasyidin, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, dan Abdurrahman bin 'Auf. Termaktub juga nama-nama empat ulama mazhab ternama, yaitu Imam Hanafi, Hambali, Syafi'i, dan Malik.

·       Bangunan tajug
          Bangunan tajug atau bale-bale terdapat di dekat pintu gerbang masuk kompleks makam. Bangunan ini berdenah bujur sangkar. Bangunan tersebut sudah mengalami pemugaran terutama pada bagian atasnya. Lantai dari batu granit. Bagian atap disanggah oleh 12 tiang kayu di bagian pinggir dan empat buah tiang utama. Di sebelah barat laut bangunan tajug terdapat bak air yang sampai sekarang masih dipergunakan.

·       Pawestren
          Bangunan pawestren merupakan bangunan baru sebagai perluasan masjid. Letaknya di samping kiri masjid berukuran panjang 15,5 m dan lebar 8 m. Bangunan disanggah oleh delapan buah tiang dari beton. Pintu masuk ada empat buah terbuat dari kayu. Jendela berjumlah enam buah. Lantai ruangan dari ubin.






                                      


Tidak ada komentar:

Posting Komentar