Laporan
“MASJID
MENARA KUDUS”
Nama : Hudzaifah abdus salaam
Kelas : XI IPS 1
No. Abs : 11
SMA 2 BAE KUDUS
Gondangmanis Kotak Pos 52 Telp. 431895, Fax : (0219)
4252060
Kudus 59301
Wabsite : www.sma2baekudus.sch.id ,Email :
sma2bae_kudus@yahoo.com
BAB I
Pendahuluan
A.
Latar Belakang
Kota Kudus memiliki banyak objek-objek religi, salah satunya
adalah Masjid Menara Kudus. Masjid Menara Kudus adalah aset penting kota Kudus
yang harus dijaga dan dilestarikan, lebih lagi kita sebagai generasi muda harus
ikut andil dalam hal tersebut.
Namun masih ada warga masyarakat Kudus yang tidak tahu
bagaimana sejarah Masjid Menara dan apa saja yang ada didalamnya. Oleh karena
itu penulis akan menjelaskan tentang Masjid Menara Kudus walaupun masih ada
banyak kekurangan.
B.
Rumusan Masalah
Secara garis besar makalah ini membahas tentang “bagaimana
peran museum kretek bagi perkembagan industri di kudus”.?
C.
Tujuan
1. Untuk
mengetahui sejarah berdirinya museum kretek
2. Untuk
mengetahui apa saja yang ada dalam komplek museum kretek
3. Untuk
mengetahui dari mana asitektur bagunan di buat
4. Untuk
mengetahui peranan museum kretek
5. Mengetahui
pembuatan rokok kretek
6. Perkembangan
industry di kota kudus
BAB II
Pembahasan
A. Sejarah Masjid Menara Kudus
Suatu ketika Syekh Ja'far Shadiq (Sunan Kudus) berada di
Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Wabah penyakit kudis tiba-tiba merajalela
di tanah suci itu. Segala upaya pencegahan telah dilakukan, namun tidak ada
hasilnya. Akhirnya, Amir (penguasa) Makkah meminta Syekh Ja'far Shadiq turun
tangan mencegah wabah penyakit yang kian hari kian mengganas.
Singkat cerita, Syekh Ja'far Shadiq berhasil menghentikan merebaknya penyakit kudis itu. Penguasa Makkah kemudian bermaksud memberinya hadiah, namun beliau menolak. Beliau hanya meminta jika berada di Palestina agar diizinkan mengambil sebuah batu dari Bait Al-Maqdis atau Al-Quds di Yerusalem. Amir Makkah pun mengizinkan. Ketika pulang ke Jawa, Syekh Ja'far Shadiq membawa batu itu dan dijadikan batu pertama dalam pembangunan masjid yang diberi nama Masjid Al-Aqsa.
Singkat cerita, Syekh Ja'far Shadiq berhasil menghentikan merebaknya penyakit kudis itu. Penguasa Makkah kemudian bermaksud memberinya hadiah, namun beliau menolak. Beliau hanya meminta jika berada di Palestina agar diizinkan mengambil sebuah batu dari Bait Al-Maqdis atau Al-Quds di Yerusalem. Amir Makkah pun mengizinkan. Ketika pulang ke Jawa, Syekh Ja'far Shadiq membawa batu itu dan dijadikan batu pertama dalam pembangunan masjid yang diberi nama Masjid Al-Aqsa.
Masjid
Al-Aqsa atau Masjid Menara Kudus didirikan oleh Sunan Kudus pada tahun 956 H
atau 1549 M. Hal itu dapat diketahui dari batu prasasti di atas mihrab masjid yang bertuliskan dari
bahasa Arab. Sayangnya, tulisan pada batu tersebut sudah sulit dibaca karena
banyak huruf yang rusak. Batu tersebut memiliki lebar 30 cm dan panjang 46 cm.
Pada awal pembangunannya, tinggi Masjid Menara Kudus ± 13
meter. Setelah direnovasi, tingginya menjadi ± 18 meter. Pada tahun 1925 M, di
bagian depan ditambah bangunan baru berupa serambi. Kemudian pada tanggal 5
November 1933 M, sebuah serambi dibangun kembali di depan serambi sebelumnya.
Di atas serambi yang baru itu terdapat kubah besar bergaya arsitektur India.
Penambahan ruang masjid terus dilakukan seiring dengan bertambah banyaknya
jumlah jamaah. Bentuk asli dari Masjid Menara Kudus masih sukar untuk diketahui
karena sudah mengalami beberapa perbaikan dan perluasan.
B.
Arsitektur Bangunan Masjid Menara
Deskripsi :
Masjid Menara Kudus ini terletak di Desa Kauman, Kabupaten
Kudus, Provinsi Jawa Tengah. Letak Masjid Menara Kudus ini cukup dekat dengan
pusat Kota Kudus (alun-alun kota), yaitu berjarak sekitar ± 1,5 kilometer. Komplek
Masjid Menara Kudus memiliki luas ± 2400
m2. Bentuk asli bangunan masjid sukar untuk diketahui karena telah beberapa
kali mengalami perbaikan dan perluasan. Bangunan yang ada di komplek Masjid
Menara Kudus, antara lain : Menara, serambi, ruang utama, pawestren, dan
bangunan lainnya
· Masjid
Masjid
Menara Kudus ini memiliki 5 buah pintu sebelah kanan, dan 5 buah pintu sebelah
kiri. Jendelanya semuanya ada 4 buah. Pintu besar terdiri dari 5 buah, dan tiang
besar di dalam masjid yang terbuat dari kayu jati ada 8 buah. Namun masjid ini
tidak sesuai aslinya, lebih besar dari semula karena telah beberapa kali
direnovasi. Di dalamnya terdapat kolam masjid atau "padasan" yang merupakan
peninggalan kuno dan dijadikan sebagai tempat wudhu.
Di dalam
masjid terdapat 2 buah bendera berwarna hijau bergaris keemasan, terletak di
kanan dan kiri tempat khatib membaca khutbah.
Di serambi depan masjid terdapat
sebuah pintu gapura,
yang biasa disebut oleh penduduk sebagai "Lawang Kembar".
Di komplek
Masjid juga terdapat pancuran untuk wudhu yang berjumlah delapan buah. Di atas
pancuran itu diletakkan arca. Jumlah delapan pancuran, konon mengadaptasi
keyakinan Buddha, yakni ‘Delapan Jalan Kebenaran’ atau Asta Sanghika Marga.
·
Menara.
Menara
Kudus memiliki ketinggian sekitar 18 meter dengan bagian dasar berukuran 10 x
10 m. Di sekeliling bangunan dihias dengan piring-piring bergambar yang
kesemuanya berjumlah 32 buah. Dua puluh buah di antaranya berwarna biru serta
berlukiskan masjid,
manusia dengan unta
dan pohon kurma.
Sementara itu, 12 buah lainnya berwarna merah putih berlukiskan kembang. Di
dalam menara terdapat tangga yang terbuat dari kayu jati. Menara ini dihiasi pula hiasan yang
menyerupai bukit kecil. Bangunan dan hiasannya jelas menunjukkan adanya
hubungan dengan kesenian Hindu Jawa karena bangunan Menara Kudus itu terdiri dari 3 bagian: kaki,
badan, dan puncak bangunan.
Kaki dan
badan menara dibangun dan diukir dengan tradisi Jawa-Hindu, termasuk motifnya.
Ciri lainnya bisa dilihat pada penggunaan material batu bata yang dipasang
tanpa perekat semen. Teknik konstruksi tradisional Jawa juga dapat dilihat pada
bagian kepala menara yang berbentuk suatu bangunan berkonstruksi kayu jati dengan
empat batang saka guru yang menopang dua tumpuk
atap tajug.
Pada
bagian puncak atap tajug terdapat semacam mustaka (kepala) seperti pada
puncak atap tumpang bangunan utama
masjid-masjid tradisional di Jawa yang jelas merujuk pada unsur arsitektur
Jawa-Hindu.
·
Makam
Selain masjid, di belakang masjid
adalah komplek makam Kanjeng Sunan Kudus dan para keluarganya. Komplek-komplek
makam tersebut terbagi-bagi dalam beberapa blok, dan tiap blok merupakan bagian
tersendiri dari hubungannya terhadap Kanjeng Sunan. Ada blok para putera dan puteri
Kanjeng Sunan, ada blok para Panglima perang dan blok paling besar adalah makam
Kanjeng Sunan sendiri. Uniknya adalah semua pintu penghubung antar blok
berbentuk gapura candi-candi. Tembok-tembok yang mengitarinya pun dari bata
merah yang disusun berjenjang, ada yang menjorok ke dalam dan ke luar seperti
layaknya bangunan candi. Panorama yang nampak adalah komplek pemakaman Islam
namun bercorak Hindu.
·
Ruang
utama
Ruang utama
ditopang oleh empat buah soko guru (tiang utama) dan empat buah soko rawa (tiang
tambahan). Ada pintu yang terdapat di sisi barat dan timur ruang utama. Lantai
ruang utama dari ubin. Atap bangunan ruang utama berbentuk tumpang tiga
dan ditutup oleh genteng merah. Pada puncak atap terdapat mustaka dari
tembaga. Di dalam ruang utama terdapat mimbar dan mihrab. Mimbar ada dua
buah yaitu di utara dan selatan. Relung mihrab berbentuk lengkung tapal kuda.
Di kanan kiri mihrab terdapat jendela. Di atas mihrab terdapat inskripsi
berhuruf Arab yang telah usang yang artinya kira-kira “Masjid didirikan oleh
Ja’far Shodiq pada tahun 956 H.”
· Serambi
Serambi
Masjid Kudus berupa bangunan terbuka terbagi dua yaitu serambi depan dan
serambi tengah. Pada serambi ini terdapat sebuah kori agung dengan tinggi ± 3 m.
Kori Agung atau pembatas ruang yang terbuat dari kayu ukir merupakan pemisahkan
antara serambi depan dengan serambi tengah. Bangunan serambi ini merupakan
bangunan tambahan perluasan masjid. Hal ini terlihat pada bagian atas serambi
terdapat sebuah kubah besar.
Di
sekelilingnya dihiasi tulisan kaligrafi Arab yang memuat nama-nama sahabat Nabi
SAW, seperti para Khulafaurrasyidin, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam,
dan Abdurrahman bin 'Auf. Termaktub juga nama-nama empat ulama mazhab ternama,
yaitu Imam Hanafi, Hambali, Syafi'i, dan Malik.
·
Bangunan
tajug
Bangunan
tajug atau bale-bale terdapat di dekat pintu gerbang masuk kompleks makam.
Bangunan ini berdenah bujur sangkar. Bangunan tersebut sudah mengalami
pemugaran terutama pada bagian atasnya. Lantai dari batu granit. Bagian atap
disanggah oleh 12 tiang kayu di bagian pinggir dan empat buah tiang
utama. Di sebelah barat laut bangunan tajug terdapat bak air yang sampai
sekarang masih dipergunakan.
· Pawestren
Bangunan
pawestren merupakan bangunan baru sebagai perluasan masjid. Letaknya di samping
kiri masjid berukuran panjang 15,5 m dan lebar 8 m. Bangunan disanggah oleh
delapan buah tiang dari beton. Pintu masuk ada empat buah terbuat dari kayu.
Jendela berjumlah enam buah. Lantai ruangan dari ubin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar