PERAN
MUSEUM KRETEK BAGI INDUSTRI
ROKOK
MAKALAH
Disusun untuk Melengkapi
Tugas Akhir Mapel Bahasa Indonesia

Nama : Hudzaifah Abdus Salaam
Kelas : XI IPS 1
No.
Abs :
11
SMA 2 BAE KUDUS
Gondangmanis Kotak Pos 52 Telp.
431895, Fax : (0219) 4252060
Kudus 59301
PENGESAHAN
Makalah ini telah diteliti dan disahkan,
pada
Hari :
Tanggal :
Tempat :
Oleh :
Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia
Ch.B. Tri Lestari, S.pd
NIP.
19580113 198103 2 010
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kudus merupakan kabupaten terkecil di
Jawa Tengah dengan luas wilayah mencapai 42.516 Ha yang terbagi dalam 9
kecamatan. Kudus merupakan daerah industri dan perdagangan, dimana sektor ini
mampu menyerap banyak tenaga kerja dan memberikan kontribusi yang besar
terhadap PDRB. Jiwa dan semangat wirausaha masyarakat diakui ulet, semboyan
jigang (ngaji dagang) yang dimiliki masyarakat mengungkapkan karakter dimana
disamping menjalankan usaha ekonomi juga mengutamakan mencari ilmu. Dilihat
dari peluang investasi bidang pariwisata, di Kabupaten Kudus terdapat beberapa
potensi yang bisa dikembangkan baik itu wisata alam, wisata budaya maupun
wisata religi. Bidang agrobisnis juga ikut memberikan citra pertanian Kudus.
Jeruk Pamelo dan Duku Sumber merupakan buah lokal yang tidak mau kalah bersaing
dengan daerah lain. Dalam hal seni dan budaya, Kudus mempunyai ciri khas yang
membedakan Kudus dengan daerah lain. Diantaranya adalah Museum Kretek Kudus.
Kota Kudus
terkenal dengan sebutan kota Kretek di Indonesia. Hal ini di buktikan dengan
menjamurnya industri rumahan maupun pabrik-pabrik besar. Maka sumbangan cukai
rokok kota Kudus sangat besar untuk APBN negara. Sehingga Gubernur Jawa Tengah
Bapak Soepardjo Rustam terdorong untuk memprakarsai berdirinya musium kretek
yang berisi dokumen-dokumen, alat-alat, maupun dokumentasi yang berhubungan
dengan musium kretek.
Museum
Kretek memiliki koleksi benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan sejarah
perkembangan Industi rokok kretek yang ditemukan oleh masyarakat Kudus dimasa
lalu dan akhirnya berkembang menjadi komoditi Industi yang besar pengaruhnya
bagi perkembangan perekonomian masyarakat Kudus.
Hal itulah yang mendorong penulis untuk mengkajinya lebih
lanjut dalam makalah berjudul: “Peran
Museum Kretek Bagi Industri Rokok Kretek”
B. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini
a. meneliti peran musium kretek
b.
mengetahui sejarah rokok kretek dikudus
b. mengetahui pembuatan rokok kretek
C. Rumusan Masalah
Secara garis besar makalah ini membahas tentang
“Bagaimanakah Peran Musium Kretek Bagi Perkembangan Industri Rokok
Kretek?”
PEMBAHASAN
A. Peran
Museum Kretek
Museum kretek merupakan obyek wisata Kabupaten Kudus yang
banyak dikunjungi wisatawan dari daerah Kudus itu sendiri maupun daerah lain.
Obyek wisata ini memiliki sumber informasi tentang asal usul rokok kretek dan
merupakan museum satu-satunya di daerah ini.
Tersimpan di dalamnya 1.195 koleksi mengenai
sejarah kretek di wilayah ini, antara lain dokumentasi kiprah Nitisemito yang
mendirikan Pabrik Rokok Bal Tiga, terdapat pula bahan dan peralatan tradisional
rokok kretek, foto-foto para pendiri pabrik kretek dan hasil produksinya,
benda-benda promosi rokok di masa lalu hingga sekarang, termasuk diorama proses
pembuatan rokok kretek. Selain menyimpan aneka koleksi tersebut, Museum ini
juga memiliki aneka gerai rekreasi bagi berbagai kalangan. Museum ini dikelola
oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di bawah naungan Pemerintah Kabupaten
Kudus.
Museum ini didirikan atas prakarsa dan
diresmikan oleh Soepardjo Roestam, Gubernur Jawa Tengah, pada 3 Oktober 1986.
Gagasan ini bermula sewaktu Beliau berkunjung ke Kudus dan menyaksikan potensi
kontribusi usaha rokok kretek dalam menggerakkan perekonomian daerah. Museum
Kretek didirikan di atas lahan seluas 2,5 ha, dengan pembiayaan dari Persatuan
Pengusaha Rokok Kudus (PPRK).
1.
Sejarah
Berdirinya
Ciri
khas Museum Kretek dibangun
sebagai simbol kota Kudus sebagai Kota Kretek, berdasarkan gagasan dari
Gubernur Jawa Tengah pada saat itu, H. Soepardjo Roestam dan diresmikan
pembukaan pada tanggal 3 Oktober 1986 oleh Menteri dalam Negeri RI, H.
Soepardjo Roestam. Tujuan pembangunan Museum Kretek adalah untuk menyajikan
benda-benda koleksi yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan rokok
kretek sebagai upaya meningkatkan nilai-nilai kewiraswastaan masa lalu dan masa
kini untuk diteruskan dan ditingkatkan pada masa mendatang. Dengan demikian
generasi muda pada saat ini dan mendatang diharapkan memiliki jiwa kewiraswastaan
yang tangguh.
Museum Kretek merupakan tempat untuk merekonstruksi sejarah Rokok Kretek Kudus dari era kejayaan Raja Rokok Kretek Kudus, Niti Semito, sampai dengan perkembangan industri rokok Kudus era modern sekarang ini.
Museum Kretek merupakan tempat untuk merekonstruksi sejarah Rokok Kretek Kudus dari era kejayaan Raja Rokok Kretek Kudus, Niti Semito, sampai dengan perkembangan industri rokok Kudus era modern sekarang ini.
Jadi Museum Kretek memiliki fungsi sebagai
sarana pendidikan, penelitian, dan rekreasi.
Museum Kretek menyimpan berbagai peralatan dan mesin-mesin tradisional pembuatan rokok kretek dan rokok klobot serta sarana promosi rokok pada masa itu. Selain itu, pengunjung juga dapat mengamati foto-foto dokumentasi lintasan sejarah rokok kretek Kudus dan juga dapat mengamati “diorama” yang menggambarkan : proses produksi tradisional dengan tangan (tanpa alat bantu) dan produksi rokok giling tangan, yang menghasilkan rokok kretek dan rokok klobot; dan proses produksi rokok filter dengan mesin modern.
Museum Kretek menyimpan berbagai peralatan dan mesin-mesin tradisional pembuatan rokok kretek dan rokok klobot serta sarana promosi rokok pada masa itu. Selain itu, pengunjung juga dapat mengamati foto-foto dokumentasi lintasan sejarah rokok kretek Kudus dan juga dapat mengamati “diorama” yang menggambarkan : proses produksi tradisional dengan tangan (tanpa alat bantu) dan produksi rokok giling tangan, yang menghasilkan rokok kretek dan rokok klobot; dan proses produksi rokok filter dengan mesin modern.
Di samping itu ada Diorama yang
menggambarkan proses penanaman dan pengolahan bahan baku rokok kretek
(tembakau, cengkeh, dan klobot jagung).
Dengan dana DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau), mulai tahun 2007 Museum Kretek dilengkapi dengan wahana permainan anak-anak, air mancur, wahana permainan air (kolam renang, waterboom, kolam arus, dan ember tumpah), mandi bola, mini movie, dan techno hall.
Dengan dana DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau), mulai tahun 2007 Museum Kretek dilengkapi dengan wahana permainan anak-anak, air mancur, wahana permainan air (kolam renang, waterboom, kolam arus, dan ember tumpah), mandi bola, mini movie, dan techno hall.
2.
Lokasi dan
Bangunan
Musium kretek berdiri
ada tahun 1986 yang berlokasi
di Jln. Getas Pejaten No. 155, Kecamatan
Jati, Kabupaten Kudus Luas musium kretek kurang lebih 4,5 Hektar.
Biaya bangunan musium kretek yang berbentuk joglo pencu
yaitu bangunan khas rumah adat Jawa Tengah dengan ornamen patung di depannya
yang menggambarkan masyarakat Kudus yang bermata pencaharian petani yang
menjadi latar belakang sejarah ditemukannya rokok kretek.
3.
Rumah Adat Kudus
Rumah Adat Kudus terletak di kompleks
Museum Kretek dan juga terdapat di sebelah selatan Menara Kudus serta di Puri
Maerokoco Semarang.
Rumah Adat Kudus, yang menurut kajian
historis-arkeologis, telah ditemukan pada tahun 1500 – an M, dibangun dengan
bahan baku 95 % berupa kayu jati (Tectona grandis) berkualitas tinggi dengan
teknologi pemasangan sistem “knoc-down” (bongkar pasang tanpa paku). Rumah Adat
Kudus merupakan salah satu rumah tradisional yang terjadi akibat endapan suatu
evolusi kebudayaan manusia, dan terbentuk karena perkembangan daya cipta
masyarakat pendukungnya. Proses akulturasi arsitektur tradisional asli Kudus
memakan waktu yang cukup panjang, mengingat banyaknya kebudayaan asing (Hindu, Cina,
Eropa, dan Persia / Islam) yang masuk ke kawasan Kudus dengan waktu yang cukup
panjang. Upaya pelestarian Rumah Adat Kudus sebagai warisan budaya bangsa dan
peninggalan sejarah telah dilakukan mesyarakat Kudus dengan merelokasi Rumah
Adat Kudus yang dibuat pada tahun 1828 M di kompleks Museum Kretek Kudus.
Rumah Adat Kudus, dengan atapnya yang
berbentuk “Joglo Pencu”, memiliki kekhasan (keunikan) dibandingkan rumah-rumah
adat yang lain di Indonesia. Seni ukir Rumah Adat Kudus merupakan seni ukir 4
(empat) dimensi dengan bentuk ukiran dan motif ragam hiasnya merupakan gaya
perpaduan seni ukir Hindu, Persia (Islam), Cina, dan Eropa, dengan tetap ada
nuansa ragam hias asli Indonesia. Keunikan Rumah Adat Kudus yang juga cukup
menarik untuk dicermati adalah kandungan nilai-nilai filosofis yang
direfleksikan rumah adat ini, misalnya :
Bentuk ukiran dan motif ragam hias ukiran, misalnya : pola kala dan gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan lain-lain. Tata letak rumah adat, misalnya arah hadap rumah harus ke selatan, dengan maksud agar pemilik rumah tidak memangku G.Muria (yang terletak di sebelah utara) sehingga tidak memperberat kehidupan sehari-hari.
Bentuk ukiran dan motif ragam hias ukiran, misalnya : pola kala dan gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan lain-lain. Tata letak rumah adat, misalnya arah hadap rumah harus ke selatan, dengan maksud agar pemilik rumah tidak memangku G.Muria (yang terletak di sebelah utara) sehingga tidak memperberat kehidupan sehari-hari.
Tata ruang rumah adat, misalnya :
-
jogo satru /
ruang tamu dengan
soko gedernya / tiang tunggal sebagai simbol bahwa Allah SWT itu Tunggal/Esa
dan penghuni rumah harus senantiasa beriman dan bertakwa kepada-Nya;
-
gedhongan
dan senthong / ruang keluarga dengan
4 buah soko guru-nya. Tiang berjumlah 4 sebagai penyangga utama bangunan rumah
melambangkan agar penghuni rumah menyangga kehidupannya sehari-hari dengan
mengendalikan 4 sifat manusia : amarah, lawamah, shofiyah, dan mutmainnah;
-
pawon/dapur;
-
pakiwan
(kamar mandi)sebagai simbol agar manusia membersihkan diri baik fisik maupun ruhani.
4.
Benda-Benda Koleksi Museum Kretek
Banyak
Benda-benda peninggalan masa lalu dan sejarah rokok kretek yang tersimpan rapi
di musium, tidak
hanya itu di dalamnya juga terdapat miniatur-miniatur serta koleksi-koleksi
benda untuk membuat rokok kretek, antara lain :
è Alat Penggulung
Rokok Kretek
Alat ini digunakan untuk menggulung
rokok kretek, alat ini sangat tradisional karena zaman dulu belum ada mesin
pembuat rokok.
èMesin Ketik
Mesin ketik kuno ini bermerk “Ideal”
Produk S&N (Seidel & Nauman), yang digunakan untuk mengetik pada zaman
dulu.
è Alat Perajang
Cengkeh Glondong
Alat ini digunakan untuk memotong
cengkeh berukuran besar. Benda peninggalan ini merupakan sumbangan dari PR.
Sogo Kudus pada tahun 1986.
è Alat Perajang
Tembakau
Alat ini
digunakan untuk memotong tembakau menjadi tipis-tipis atau kecil-kecil.
è Gilingan
Tembakau Tradisional
Alat ini digunakan untuk menggiling
tembakau dengan cara memasukkan tembakau kedalamnya, Lalu digiling menggunakan
alat putar atau roda untuk memutar.
è Pembersih Atau
Penyaring Tembakau Tradisional (Krondo)
Alat ini digunakan untuk menyaring
dan membersihkan tembakau dari debu atau kotoran-kotoran yang menempel di
tembakau agar bersih dan higienis.
è Miniatur Alat
Angkut Tradisional
Kereta kuda
Andong atau disebut juga Gerobak yang merupakan alat angkut tradisional pada
zamannya. Gerobak Andong yang ditarik kuda berfungsi untuk mengangkut produksi
rokok yang siap dikirim ke pasar.
5.
Pengelolaan Museum Kretek
Pengelolaan musium kretek sekarang di
kelola oleh pemda kudus sendiri musium kretek mempunyai dasar hukum, dasar
hukum pengelolaan musium kretek antara lain :
1. SK Bupati tingkat II kudus tanggal 16 november 1986 No.1884
tentang penyerahan pengelolaan musium kretek kabupaten kepada PPRK
2.Peraturan daerah kabupaten kudus No.7 th 2003, tentang
pembentukan kabupaten kudus, yang sekarang menjadi UPTD. Musium kretek di bawah
dinas pariwisata daerah habupaten kudus.
3. Keputusan
Bupati kudus No. 26 th 2003 tanggal 23 September 2003 tenteng penjabatan tugas
pokok dan fungsi serta tata kerja dinas daerah kabupaten kudus. Mulai tahun
2010 pengelolaan museum kretek dibawah UPTD Dinas Pariwisata dan Keperbakalaan
Kabupaten Kudus.
B. Sejarah
Rokok Kretek Kudus
1.
Asal Usul Rokok Kretek
Asal usul rokok kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun
waktu sekitar akhir abad
ke-19. Awalnya, penduduk asli Kudus ini merasa
sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkeh. Setelah itu,
sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkeh dan
mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting
menjadi rokok. Kala itu
melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi
dengan mencampur cengkeh.Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari
merasa sakitnya hilang.Ia menceritakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun
menyebar cepat. Permintaan "rokok obat" ini pun mengalir. Djamari
melayani banyak permintaan rokok cengkeh. Lantaran ketika dihisap, cengkeh yang
terbakar mengeluarkan bunyi "keretek", maka rokok temuan Djamari ini
dikenal dengan "rokok kretek". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot
atau daunjagung kering. Dijual
per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama
sekali. Rokok kretek pun kian dikenal. Konon Djamari meninggal pada 1890. Identitas dan
asal-usulnya hingga kini masih samar. Hanya temuannya itu yang terus
berkembang. Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan yang
memikat, di tangan Nitisemito.
Nitisemito sendiri seorang buta huruf, dilahirkan dari
rahim Ibu Markanah di desa Janggalan dengan nama kecil Rusdi. Ayahnya, Haji Sulaiman adalah kepala
desa janggalan. Pada usia 17 tahun ia mengubah namanya menjadi Nitisemito.
Nitisemito
pulang kampung dan memulai usahanya membuat minyak kelapa, berdagang kerbau
namun gagal.Ia kemudian bekerja menjadi kusir dokar sambil berdagang tembakau.
Saat itulah dia berkenalan dengan Mbok Nasilah, pedagang rokok klobot di Kudus.
Mbok Nasilah, yang juga dianggap sebagai penemu pertama rokok kretek, menemukan
rokok kretek untuk menggantikan kebiasaan nginang pada sekitar tahun 1870. Di
warungnya, yang kini menjadi toko kain Fahrida di Jalan Sunan Kudus, Mbok
nasilah menyuguhkan rokok temuannya untuk para kusir yang sering mengunjungi
warungnya. Kebiasaan nginang yang sering dilakukan para kusir mengakibatkan
kotornya warung Mbok Nasilah, sehingga dengan menyuguhkan rokok, ia berusaha
agar warungnya tidak kotor. Pada awalnya ia mencoba meracik rokok. Salah
satunya dengan menambahkan cengkeh ke tembakau.Campuran ini kemudian dibungkus
dengan klobot atau daun jagung kering dan diikat dengan benang.Rokok ini
disukai oleh para kusir dokar dan pedagang keliling.Salah satu penggemarnya
adalah Nitisemito yang saat itu menjadi kusir.Nitisemito lantas menikahi
Nasilah dan mengembangkan usaha rokok kreteknya menjadi mata dagangan utama.Usaha
ini maju pesat. Nitisemito memberi label rokoknya "Rokok Tjap Kodok Mangan
Ulo" (Rokok Cap Kodok makan Ular). Nama ini tidak membawa hoki malah
menjadi bahan tertawaan.Nitisemito lalu mengganti dengan Tjap Bulatan Tiga.
Lantaran gambar bulatan dalam kemasan mirip bola, merek ini kerap disebut Bal
Tiga. Julukan ini akhirnya menjadi merek resmi dengan tambahan Nitisemito (Tjap
Bal Tiga H.M. Nitisemito). Bal Tiga resmi berdiri pada 1914 di Desa Jati,
Kudus.Setelah 10 tahun beroperasi, Nitisemito mampu membangun pabrik besar
diatas lahan 6 hektar di Desa jati. Ketika itu, di Kudus telah berdiri 12
perusahaan rokok besar, 16 perusahaan menengah, dan tujuh pabrik rokok kecil
(gurem). Diantara pabrik besar itu adalah milik M. Atmowidjojo (merek Goenoeng
Kedoe), H.M Muslich (merek Delima), H. Ali Asikin (merek Djangkar), Tjoa Khang
Hay (merek Trio), dan M. Sirin (merek Garbis & Manggis).Sejarah mencatat
Nitisemito mampu mengomandani 10.000 pekerja dan memproduksi 10 juta batang
rokok per hari 1938. Kemudian untuk mengembangkan usahanya, ia menyewa tenaga
pembukuan asal Belanda. Pasaran produknya cukup luas, mencakup kota-kota di
Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan bahkan ke Negeri Belanda sendiri.Ia
kreatif memasarkan produknya, misalnya dengan menyewa pesawat terbang Fokker
seharga 200 gulden saat itu untuk mempromosikan rokoknya ke Bandung dan
Jakarta.
Pertama
muncul di Bandung pada tahun 1905, lalu menular ke Garut dan Tasikmalaya. Rokok
jenis ini meredup ketika kretek Kudus menyusup melalui Majalengka pada 1930an,
meski sempat muncul pabrik rokok kawung di Ciledug Wetan. Sedangkan di Jawa
Timur, industri rokok dimulai dari rumah tangga pada tahun 1910 yang dikenal
dengan PT H.M Sampoerna. Tonggak perkembangan kretek dimulai ketika
pabrik-pabrik besar menggunakan mesin pelinting. Tercatat PT. Bentoel di Malang yang berdiri pada tahun
1931 yang pertama memakai mesin pada tahun 1968, mampu menghasilkan 6000 batang
rokok per menit.
PT. Gudang Garam, Kediri dan PT HM Sampoerna tidak
mau ketinggalan, begitu juga dengan PT Djarum, Djamboe Bol, Nojorono dan Sukun di Kudus.
Manfaat rokok kretek yang ditemukan H. Jamhari pertama
kali adalah sebagai obat gangguan tenggorokan dan asma. Karena rokok zaman
dahulu langsung dibuat dan dinikmati misalnya dalam membuat rokok, H. Jamhari
memetik tembakau langsung dari pohonnya, lalu dikeringkan dan diberi cengkeh
lalu kemudian dibuat rokok.
Tetapi rokok
pada zaman sekarang tidak mempunyai manfaat dan tidak bisa dijadikan untuk
obat. Karena dalam pembuatan rokok zaman sekarang sudah banyak berubah, terutama
pada bahan-bahan pembuatannya. Oleh karena itu jika mengkonsumsi rokok zaman
sekarang dampaknya sangat besar,
diantaranya dapat menyebabkan kanker, gangguan pada paru-paru, impotensi,
gangguan janin pada ibu hamil, Dll.
2. Wirausahawan Kudus Dalam Industri Rokok Kretek
a. M. Niti Semito
Beberapa tahun sepeninggal Haji Jamahri, seorang warga
Kudus bernama M.Niti Semito berpikir untuk memasarkan rokok kretek secara
massal.
Produksi pertama dimulai pada 1906 dengan kategori rokok
terbatas pada jenis klobot kretek. Perusahaannya didaftarkan pada 1908 dengan
nama NV Bal Tiga Nitisemito.
Tapi nama Nitisemito terkenal bukan hanya disebabkan ia
adalah pionir komersialisasi rokok kretek di Indonesia, namun lebih karena
strategi pemasarannya yang sangat kreatif, yang dipercaya mengilhami banyak
perusahaan sejenis hingga sekarang. Beberapa dari strategi kreatif tersebut adalah: penawaran
free gift dan special offer kepada konsumen setia; pemberian hadiah bagi
konsumen yang mengembalikan bungkus rokok Bal Tiga; promosi berjalan
menggunakan bus dan pesawat; mensponsori teater keliling; dan pembuatan silver
cases serta korek berlogo Bal Tiga.
Nitisemito bahkan menjadi orang Indonesia pertama yang tidak pernah
mendapatkan pendidikan formal namun mampu mempekerjakan orang asing, yakni H.J.
Voren dan Poolman, keduanya akuntan berkebangsaan Belanda. Lahir di Desa
Jegalan Kudus pada 1874, Nitisemito meninggal di usia 79 tahun. Oleh sejarawan
dan pengamat rokok, ia dianugerahi gelar ”Bapak Kretek Indonesia
b. Koo Djee Siang
Nojorono didirikan tahun 1932. Pabrik ini berlokasikan di
Jl. Jenderal.Sudirman No. 86-b.
Perusahaan inilah yang memproduksi merek terkenal Minak Djinggo.
Berbeda
dengan perusahaan lain yang umumnya dikuasai oleh satu keluarga secara
turun-temurun, Nojorono dikendalikan secara kolektif oleh lima keluarga
sekaligus. Awalnya adalah Tjoa Kang Hay, yang pernah bekerja untuk Nitisemito,
mengajak saudaranya, Tan Tjiep Siang dan Tan Kong Ping untuk mendirikan
Trio.Setelah itu Kang Hay mencari partner baru di Kudus, yakni Ko Djie Siong
dan Tan Djing Dhay, untuk mendirikan Nojorono.
Didirikan
pada 1932, inovasi terbesar Nojorono selama ini adalah rokok tahan air di mana
ia juga memiliki hak paten atas temuannya ini. Produk ini dimungkinkan berkat
penggunaan parafin dalam proses produksi rokok. Karena keunggulan water
proof-nya ini, rokok produksi Nojorono sangatlah populer di kalangan pelaut dan
nelayan.
c. H. A Ma’ruf
Djambu Bol didirikan tahun 1937. Pabrik ini berlokasikan
di Jl. Raya kudus-pati. Berdiri sebelum Indonesia medeka, Pabrik Rokok Jambu
Bol sempat terhenti ketika Jepang menginvasi Indonesia pada 1942. Perusahaan
ini menemukan pijakannya kembali pada 1949 dengan memproduksi rokok kretek
paper-wrapped, sebagai pengganti jenis klobot yang diproduksinya sejak awal.
Berbeda
dengan perusahaan lain yang dimiliki oleh warga keturunan Cina, Djambu Bol
adalah perusahaan pribumi terbesar di Indonesia yang pernah tercatat dalam
sejarah. Pendirinya adalah seorang warga Kudus bernama Haji Roesydi Ma’roef.
Berbeda pula dengan perusahaan lain, Djambu Bol berkonsentrasi hanya pada pasar
luar Jawa, terutama Sumatera Utara yang mencapai 95% dari pangsa pasarnya. Sampai
sekarang Djambu Bol tidak pernah menggunakan mesin melainkan lebih memilih
mempertahankan tradisi rokok hand-made atau buatan tangan
d.
Oei Wie Gwan
Djarum
didirikan tahun 1951.Nama aslinya adalah Djarum Gramophon. Oleh Oei Wie Gwan
nama ini diubah menjadi Djarum pada 1951. Berbeda dengan perusahaan kretek
umumnya, Djarum bukanlah perusahaan keluarga, pemilik sekarang tidak mempunyai
hubungan darah sedikitpun dengan pendiri pertamanya. Wie Gwan adalah tipikal
pengusaha rokok sejati yang selalu melibatkan diri dalam proses produksi,
misalnya dengan mencampur sendiri tembakau dengan saus.
Dua merek
pertama perusahaan ini diberi nama Djarum dan Kotak Ajaib. Awalnya hanya
dipasarkan di wilayah Kudus, namun setelah kedatangan Wie Gwan diekspansi ke
wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.Setelah sempat menjadi yang terbesar di
1967, Djarum mulai menjajal pasar luar negeri pada 1972.Langkah ini
mengantarnya menjadi merek kretek paling populer di luar negeri.
Tiga merek
terkenal dari Djarum berikutnya adalah Djarum Filter (1976), Djarum Super
(1981), dan Djarum Cigarillos –kretek berbentuk cerutu pertama di dunia.Untuk
yang terakhir ini, Djarum belajar dari Oud Kampen Cigarillo Factory di
Belanda.Pada 1963, Wie Gwan meninggalkan perusahaannya kepada kedua anaknya, Budi
dan Bambang.
e.
M. Atmowijoyo
M.
Atmowijoyo adalah pendiri perusahaan rokok Goenoeng & Klapa yang didirikan
tahun 1913. Jika Anda mengira bahwa HM Sampoerna adalah perusahaan kretek
tertua di Indonesia yang masih bertahan hingga sekarang, mungkin Anda mau
merevisi hal tersebut.Pasalnya pada 1913 berdiri sebuah pabrik rokok di Kudus,
namanya Goenoeng & Klapa (Gunung dan Kelapa).
Didirikan
oleh Mohamed Atmowijoyo, perusahaan ini mempertahankan apa saja yang lama sudah
ditinggalkan perusahaan-perusahaan rokok. Ia hanya memproduksi klobot,
kebalikan dari perusahaan lain yang memiliki produk beragam. Ia juga masih
menggunakan tali pengikat rokok jauh tertinggal dari teknologi pembungkusan
yang berkembang. Dan rokok tersebut tetap dikerjakan dengan tangan sepenuhnya
tanpa memiliki mesin satupun.Satu hal lagi yang kontroversial adalah resep saus
perusahaan ini tidak dirahasiakan melainkan dipajang di papan tulis pada
dinding pabrik.
Sekarang,
karyawan Gunung dan Kelapa hanya berjumlah 35 orang dengan produk yang hanya
dikenal secara terbatas di wilayah Kudus. Harga rokoknya pun berbeda jauh
dibanding merek lain, ketika Dji Sam Soe dijual dengan harga Rp. 3.500, Gunung
dan Kelapa bisa didapat dengan hanya Rp. 400. Satu-satunya hal yang sama antara
perusahaan ini dengan HM Sampoerna adalah bahwa mereka.
C. Pembuatan
Rokok Kretek
Rokok kretek adalah rokok yang
menggunakan tembakau asli yang dikeringkan, dipadukan dengan saus cengkeh dan saat
dihisap terdengar bunyi kretek-kretek.Rokok kretek berbeda dengan rokok yang
menggunakan tembakau buatan.Jenis cerutu merupakan
simbol rokok kretek yang luar biasa, semuanya alami tanpa ada campuran apapun,
dan pembuatannya tidak bisa menggunakan mesin.Masih memanfaatkan tangan
pengrajin. Dahulu kala pembuatan rokok hanya menggunakan tangan/tradisional
banyak orang-orang yang bekerja untuk membuat rokok diperusahaan manapun.
Tetapi seiring berjalannya waktu pembuatan rokok tradisional sekarang makin
langka/ditinggalkan karena adanya pembuatan rokok dengan menggunakan alat-alat
modern.
Banyak
perusahaan rokok yang sekarang menggunakan alat-alat yang canggih karena
dinilai cukup higienis dan cepat dari pada menggunakan alat-alat tradisional.
Jenis-Jenis Rokok
Kretek
1.
Jenis rokok kretek dibagi menjadi 4 bagian yaitu :
a. Rokok
Kretek Tradisional
Rokok
kretek tradisional adalah rokok kretek yang dibuat menggunakan tangan manusia
dan tidak menggunakan mesin. Contoh rokok kretek tradisional
b. Jenis
Rokok Kretek Klobot
Rokok
Klobot adalah rokok yang cara membuatnya menggunakan tangan manusia dan masih
menggunakan alat-alat tradisional karena tidak ada mesin pengolah rokok pada
saat itu. Bungkus rokok ini terbuat dari daun jagung. Tetapi seiring
berkembangnya zaman, proses pembuatan rokok ini sudah ditinggalkan karena sudah
ada kemajuan teknologi di bidang pembuatan rokok, tidak heran rokok ini sudah
langka bahkan saat ini sudah tidak ada pabrik atau indusri yang memproduksi
rokok jenis ini. Contoh rokok kretek klobot,
c. Rokok
Sigaret Tangan
Rokok
sigaret tangan adalah rokok yang dibuat menggunakan tangan manusia dan tidak
menggunakan mesin. Tapi pada kemasan rokok menggunakan kertas dan biasanya pembungkus
rokok itu sendiri menggunakan kertas yang bersih dan higienis. Contoh rokok
sigaret tangan,
d. Rokok
Sigaret Mesin
Rokok
sigaret mesin adalah rokok yang proses pembuatannya melalui mesin dan sedikit
campur tangan oleh manusia. Biasanya alat pembungkus dan kemasan rokok jenis
ini sudah menggunakan kertas yang bersih. Rokok jenis ini sangat mudah didapat
dan mudah ditemui karena rokok jenis ini mudah, cepat dan higienis dalam
pembuatannya disamping itu harga rokok jenis ini sangat terjangkau oleh semua
kalangan masyarakat.
2.
Perkembangan Rokok Kretek
a. Cara pembuatan rokok
kretek tradisional
Proses
pembuatan rokok kretek tradisional adalah proses
pembuatan dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu sederhana yang tidak
menggunakan mesin.
b. Rokok
Sigaret Mesin
Rokok
sigaret mesin adalah rokok yang proses pembuatannya melalui mesin dan sedikit
campur tangan oleh manusia. Biasanya alat pembungkus dan kemasan rokok jenis
ini sudah menggunakan kertas yang bersih. Rokok jenis ini sangat mudah didapat
dan mudah ditemui karena rokok jenis ini mudah, cepat dan higienis dalam
pembuatannya disamping itu harga rokok jenis ini sangat terjangkau oleh semua
kalangan masyarakat. Contoh rokok sigaret mesin,
3.
Peran Industri Rokok Kretek
a. Bagi tenaga kerja
Industri
rokok kretek di Kudus sangat berarti dan bermanfaat bagi tenaga kerja, Karena
dengan adanya industri rokok kretek di Kudus bisa menciptakan lapangan
pekerjaan dan mengurangi angka pengangguran.
Selain itu
sebagian masyarakat Kudus bekerja sebagai buruh pabrik rokok sehingga dapat
dikatakan bahwa industri rokok di kota Kudus sebagai tonggak perekonomian yang
sangat penting. Karena sebagai lapangan pekerjaan, industri rokok menyerap
banyak tenaga kerja. Sehingga dapat mengurangi angka pengangguran di Kudus
khususnya dan Indonesia pada umumnya.
b. Bagi perekonomian
masyarakat
Industri
rokok yang ada di kota Kudus yang tempat produksinya biasa disebut pabrik ini
sangatlah penting sekali bagi perekonomian masyarakat, dimana sebagian mata
pencaharian utama mereka memang berada di tempat itu. Sehingga mereka dapat
memenuhi kebutuhan hidup mereka dari upah, gaji yang diterima dari bekerja.
Pabrik rokok yang bekerja pada bidang industri ini merupakan lapangan pekerjaan
yang begitu banyak pekerka, selain itu juga struktur organisasinya bersifat
formal(resmi), terdapat pemimpin, wakilnya, karyawan, bagian keamanan, dan
buruh. Terdapat aturan dan sanksi juga yang dikenakan pada semua orang yang
bekerja didalamnya, yang disesuaikan berdasarkan jabatanya sebagai tempat
memproduksi barang-barang, pabrik rokok yang ada di Kudus ini dapat digolongkan
kedalam suatu lembaga yakni lembaga perekonomian karena telah memenuhi fungsi
manifest sebagai lembaga ekonomi, yakni selain para pekerja industri rokok dan
masyarakat yang berada dekat dengan lokasi terebut, yang merasa diuntungkan
dengan keberadaanya,
Bukan hanya
orang-orang yang bekerja di pabrik rokok itu saja yang diuntungkan dengan
adanya industri rokok ini melainkan juga dengan masyarakat yang tempat
tinggalnya berada di dekat lokasi rokok itu sendiri. Mereka dapat membuka usaha
kecil kecilan yang dapat memberikan keuntungan yang cukup lumayan besarnya
untuk menambah pendapatan mereka sehari-hari, bahkan ada yang mnjadikannya
sebagai mata pencaharian utama, antara lain, membuka usaha tempat parkir epeda
atau sepeda motor, membuka usaha warung makan, menjual sembako dan lain
sebagainya.
Negara pun
ikut juga dapat merasakanya secara tidak langsung melalui pajak. Untuk setiap
harinya industri rokok PT. Djarum saja pemasukan ke kas Negara mencapai kurang
lebih hampir 1 milyar, apalagi jika ditambah dengan tiga pabrik rokok terbesar
di kota Kudus (PT. Nojorono, PB. Sukun, dan PR. Jambu bol).
Bayangkan
saja apa yang terjadi apabila industri rokok tersebut ditutup, dengan alas an
kesehatan imana rokok dapat menyebabkan impotensi, serangan jantung, dan
gangguan kehamilan dan janin, berapa banyak orang yang merasa dirugikan
khususnya para buruh pabrik rokok tersebut, secara otomatis akan memperbanyak
angka pengangguran di negeri ini. Mungkin karena itulah sampai saat ini
industri rokok masih tetap bertahan bahkan teru berkmbang meskipun rokok itu
sendiri dapat membahayakan kesehatan. Bahkan kita tidak peril sampai berfikir
sejauh ke arah itu (brfikir apa yang terjadi apabila pabrik rokok di tutup),
kita lihat saja fenomena yang terjadi ketika pekerjaan para buruh pabrik rokok
itu dikurangi.
Maka gaji
atau upah merekapun akan ikut berkurang sehingga banyak para buruh pabrik rokok
yang didominasi oleh wanita tersebut mengeluh akan kondisi seperti itu. Apalagi
jika mereka itu adalah tulang punggung bagi keluarganya, sungguh menjadi beban
ekonomi yang cukup berat baginya seperti halnya yang dialami oleh seorang
narasumber yang saya wawancarai. Padahal buruh pabrik rokok menduduni peringkat
pertama di bandingkan dengan yang lain dalam jumlahnya pada sebuah industri
rokok.
Negara pun ikut juga dapat merasakanya
secara tidak langsung melalui pajak. Untuk setiap harinya industri rokok PT.
Djarum saja pemasukan ke kas Negara mencapai kurang lebih hampir 1 milyar,
apalagi jika ditambah dengan tiga pabrik rokok terbesar di kota Kudus (PT.
Nojorono, PB. Sukun, dan PR. Jambu bol).
Bayangkan saja apa yang terjadi apabila
industri rokok tersebut ditutup, dengan alas an kesehatan imana rokok dapat
menyebabkan impotensi, serangan jantung, dan gangguan kehamilan dan janin,
berapa banyak orang yang merasa dirugikan khususnya para buruh pabrik rokok
tersebut, secara otomatis akan memperbanyak angka pengangguran di negeri ini.
Mungkin karena itulah sampai saat ini industri rokok masih tetap bertahan
bahkan teru berkmbang meskipun rokok itu sendiri dapat membahayakan kesehatan.
Bahkan kita tidak peril sampai berfikir sejauh ke arah itu (brfikir apa yang
terjadi apabila pabrik rokok di tutup), kita lihat saja fenomena yang terjadi
ketika pekerjaan para buruh pabrik rokok itu dikurangi.
Maka gaji atau upah merekapun akan ikut
berkurang sehingga banyak para buruh pabrik rokok yang didominasi oleh wanita
tersebut mengeluh akan kondisi seperti itu. Apalagi jika mereka itu adalah
tulang punggung bagi keluarganya, sungguh menjadi beban ekonomi yang cukup
berat baginya seperti halnya yang dialami oleh seorang narasumber yang saya
wawancarai. Padahal buruh pabrik rokok menduduni peringkat pertama di
bandingkan dengan yang lain dalam jumlahnya pada sebuah industri rokok.
PENUTUP
1.
Simpulan
Kota Kudus
merupakan kota kretek yang menyumbang cukai rokok terbesar untuk negara
Indonesia dengan menjamurnya pabrik-pabrik rokok di Kudus.
Pendirian
musium kretek diprakarsai oleh bapak Soepardjo Rustam untuk menyelamatkan
dokumen-dokumen dan sejarah asal-usul rokok dengan ditemukannya potensi dan
faktor sejarah di Kudus.
Kesimpulan
itulah yang penulis Berikan untuk para pembaca laporan Bahasa Indonesia ini.
2.
Saran
Saya sebagai penulis menyarankan kepada
pembaca sebagai berikut :
a)
Sebagai
obyek wisata yang banyak menyajikan koleksi-koleksi yang kita temui di museum
kretek.
b)
Memberitahukan
kepada masyarakat tentang museum kretek pada masa lalu.
c)
Obyek
penelitian bagi para pelajar maupun mahasiswa yang ingin mempelajari lebih
dalam tentang rokok kretek di Kudus.
d)
Memberi
informasi tentang alat yang digunakan dalam pembuatan rokok kretek secara
tradisional.
Demikianlah saran telah penulis buat untuk melengkapi
makalah yang penulis buat ini.
DAFTAR PUSTAKA
Ruhardjo, Slamet dkk. 1996. Pola Pemukiman Tradisional
Daerah Perkotaan Kawasan Pantai Utara Jawa Tengah. Semarang : Depdikbud
Jawa Tengah
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan Nasional Edisi 4, 2007 Balai Pustaka Jakarta
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa
Departemen Pendidikan NasionalEdisi 2, 1993 Balai Pustaka Jakarta
makasih jhon
BalasHapus