Jumat, 18 September 2015

Karya Ilmiahku

PERAN MUSEUM KRETEK BAGI INDUSTRI ROKOK
MAKALAH

Disusun untuk Melengkapi
Tugas Akhir Mapel Bahasa Indonesia


rhdhr.jpg


Nama                   : Hudzaifah Abdus Salaam
Kelas                   : XI IPS 1
No. Abs               : 11

SMA 2 BAE KUDUS
Gondangmanis Kotak Pos 52 Telp. 431895, Fax : (0219) 4252060
Kudus 59301
Wabsite : www.sma2baekudus.sch.id , Email : sma2bae_kudus@yahoo.com



PENGESAHAN

            Makalah ini telah diteliti dan disahkan, pada
Hari                 :
Tanggal           :
Tempat            :
Oleh                :








Guru Mata Pelajaran Bahasa Indonesia




Ch.B. Tri Lestari, S.pd
                                                                                    NIP. 19580113 198103 2 010











BAB I
     PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Kudus merupakan kabupaten terkecil di Jawa Tengah dengan luas wilayah mencapai 42.516 Ha yang terbagi dalam 9 kecamatan. Kudus merupakan daerah industri dan perdagangan, dimana sektor ini mampu menyerap banyak tenaga kerja dan memberikan kontribusi yang besar terhadap PDRB. Jiwa dan semangat wirausaha masyarakat diakui ulet, semboyan jigang (ngaji dagang) yang dimiliki masyarakat mengungkapkan karakter dimana disamping menjalankan usaha ekonomi juga mengutamakan mencari ilmu. Dilihat dari peluang investasi bidang pariwisata, di Kabupaten Kudus terdapat beberapa potensi yang bisa dikembangkan baik itu wisata alam, wisata budaya maupun wisata religi. Bidang agrobisnis juga ikut memberikan citra pertanian Kudus. Jeruk Pamelo dan Duku Sumber merupakan buah lokal yang tidak mau kalah bersaing dengan daerah lain. Dalam hal seni dan budaya, Kudus mempunyai ciri khas yang membedakan Kudus dengan daerah lain. Diantaranya adalah Museum Kretek Kudus.
          Kota Kudus terkenal dengan sebutan kota Kretek di Indonesia. Hal ini di buktikan dengan menjamurnya industri rumahan maupun pabrik-pabrik besar. Maka sumbangan cukai rokok kota Kudus sangat besar untuk APBN negara. Sehingga Gubernur Jawa Tengah Bapak Soepardjo Rustam terdorong untuk memprakarsai berdirinya musium kretek yang berisi dokumen-dokumen, alat-alat, maupun dokumentasi yang berhubungan dengan musium kretek.
          Museum Kretek memiliki koleksi benda-benda bersejarah yang berkaitan dengan sejarah perkembangan Industi rokok kretek yang ditemukan oleh masyarakat Kudus dimasa lalu dan akhirnya berkembang menjadi komoditi Industi yang besar pengaruhnya bagi perkembangan perekonomian masyarakat Kudus.
Hal itulah yang mendorong penulis untuk mengkajinya lebih lanjut dalam makalah berjudul: “Peran Museum Kretek Bagi Industri Rokok Kretek”
B.  Tujuan Penelitian
Adapun tujuan penelitian ini
a. meneliti peran musium kretek
            b. mengetahui sejarah rokok kretek dikudus
b. mengetahui pembuatan rokok kretek

C.  Rumusan Masalah
Secara garis besar makalah ini membahas tentang “Bagaimanakah Peran Musium Kretek Bagi Perkembangan Industri Rokok Kretek?”


BAB II
PEMBAHASAN


A.  Peran Museum Kretek
Museum kretek merupakan obyek wisata Kabupaten Kudus yang banyak dikunjungi wisatawan dari daerah Kudus itu sendiri maupun daerah lain. Obyek wisata ini memiliki sumber informasi tentang asal usul rokok kretek dan merupakan museum satu-satunya di daerah ini.
Tersimpan di dalamnya 1.195 koleksi mengenai sejarah kretek di wilayah ini, antara lain dokumentasi kiprah Nitisemito yang mendirikan Pabrik Rokok Bal Tiga, terdapat pula bahan dan peralatan tradisional rokok kretek, foto-foto para pendiri pabrik kretek dan hasil produksinya, benda-benda promosi rokok di masa lalu hingga sekarang, termasuk diorama proses pembuatan rokok kretek. Selain menyimpan aneka koleksi tersebut, Museum ini juga memiliki aneka gerai rekreasi bagi berbagai kalangan. Museum ini dikelola oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata di bawah naungan Pemerintah Kabupaten Kudus.
Museum ini didirikan atas prakarsa dan diresmikan oleh Soepardjo Roestam, Gubernur Jawa Tengah, pada 3 Oktober 1986. Gagasan ini bermula sewaktu Beliau berkunjung ke Kudus dan menyaksikan potensi kontribusi usaha rokok kretek dalam menggerakkan perekonomian daerah. Museum Kretek didirikan di atas lahan seluas 2,5 ha, dengan pembiayaan dari Persatuan Pengusaha Rokok Kudus (PPRK).
1.        Sejarah Berdirinya
Ciri   khas    Museum Kretek dibangun sebagai simbol kota Kudus sebagai Kota Kretek, berdasarkan gagasan dari Gubernur Jawa Tengah pada saat itu, H. Soepardjo Roestam dan diresmikan pembukaan pada tanggal 3 Oktober 1986 oleh Menteri dalam Negeri RI, H. Soepardjo Roestam. Tujuan pembangunan Museum Kretek adalah untuk menyajikan benda-benda koleksi yang berhubungan dengan perkembangan perusahaan rokok kretek sebagai upaya meningkatkan nilai-nilai kewiraswastaan masa lalu dan masa kini untuk diteruskan dan ditingkatkan pada masa mendatang. Dengan demikian generasi muda pada saat ini dan mendatang diharapkan memiliki jiwa kewiraswastaan yang tangguh.
Museum Kretek merupakan tempat untuk merekonstruksi sejarah Rokok Kretek Kudus dari era kejayaan Raja Rokok Kretek Kudus, Niti Semito, sampai dengan perkembangan industri rokok Kudus era modern sekarang ini.
Jadi Museum Kretek memiliki fungsi sebagai sarana pendidikan, penelitian, dan rekreasi.
Museum Kretek menyimpan berbagai peralatan dan mesin-mesin tradisional pembuatan rokok kretek dan rokok klobot serta sarana promosi rokok pada masa itu. Selain itu, pengunjung juga dapat mengamati foto-foto dokumentasi lintasan sejarah rokok kretek Kudus dan juga dapat mengamati “diorama” yang menggambarkan : proses produksi tradisional dengan tangan (tanpa alat bantu) dan produksi rokok giling tangan, yang menghasilkan rokok kretek dan rokok klobot; dan proses produksi rokok filter dengan mesin modern.
Di samping itu ada Diorama yang menggambarkan proses penanaman dan pengolahan bahan baku rokok kretek (tembakau, cengkeh, dan klobot jagung).
Dengan dana DBHCHT (Dana Bagi Hasil Cukai dan Hasil Tembakau), mulai tahun 2007 Museum Kretek dilengkapi dengan wahana permainan anak-anak, air mancur, wahana permainan air (kolam renang, waterboom, kolam arus, dan ember tumpah), mandi bola, mini movie, dan techno hall.
2.        Lokasi dan Bangunan                                                                                                                                        
Musium kretek berdiri ada tahun 1986 yang berlokasi di Jln. Getas Pejaten No. 155,  Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus Luas musium kretek kurang lebih 4,5 Hektar.
Biaya bangunan musium kretek yang berbentuk joglo pencu yaitu bangunan khas rumah adat Jawa Tengah dengan ornamen patung di depannya yang menggambarkan masyarakat Kudus yang bermata pencaharian petani yang menjadi latar belakang sejarah ditemukannya rokok kretek.
3.        Rumah Adat Kudus
Rumah Adat Kudus terletak di kompleks Museum Kretek dan juga terdapat di sebelah selatan Menara Kudus serta di Puri Maerokoco Semarang.
Rumah Adat Kudus, yang menurut kajian historis-arkeologis, telah ditemukan pada tahun 1500 – an M, dibangun dengan bahan baku 95 % berupa kayu jati (Tectona grandis) berkualitas tinggi dengan teknologi pemasangan sistem “knoc-down” (bongkar pasang tanpa paku). Rumah Adat Kudus merupakan salah satu rumah tradisional yang terjadi akibat endapan suatu evolusi kebudayaan manusia, dan terbentuk karena perkembangan daya cipta masyarakat pendukungnya. Proses akulturasi arsitektur tradisional asli Kudus memakan waktu yang cukup panjang, mengingat banyaknya kebudayaan asing (Hindu, Cina, Eropa, dan Persia / Islam) yang masuk ke kawasan Kudus dengan waktu yang cukup panjang. Upaya pelestarian Rumah Adat Kudus sebagai warisan budaya bangsa dan peninggalan sejarah telah dilakukan mesyarakat Kudus dengan merelokasi Rumah Adat Kudus yang dibuat pada tahun 1828 M di kompleks Museum Kretek Kudus.
Rumah Adat Kudus, dengan atapnya yang berbentuk “Joglo Pencu”, memiliki kekhasan (keunikan) dibandingkan rumah-rumah adat yang lain di Indonesia. Seni ukir Rumah Adat Kudus merupakan seni ukir 4 (empat) dimensi dengan bentuk ukiran dan motif ragam hiasnya merupakan gaya perpaduan seni ukir Hindu, Persia (Islam), Cina, dan Eropa, dengan tetap ada nuansa ragam hias asli Indonesia. Keunikan Rumah Adat Kudus yang juga cukup menarik untuk dicermati adalah kandungan nilai-nilai filosofis yang direfleksikan rumah adat ini, misalnya :
Bentuk ukiran dan motif ragam hias ukiran, misalnya : pola kala dan gajah penunggu, rangkaian bunga melati (sekar rinonce), motif ular naga, buah nanas (sarang lebah), motif burung phoenix, dan lain-lain. Tata letak rumah adat, misalnya arah hadap rumah harus ke selatan, dengan maksud agar pemilik rumah tidak memangku G.Muria (yang terletak di sebelah utara) sehingga tidak memperberat kehidupan sehari-hari.
Tata ruang rumah adat, misalnya :
-            jogo satru / ruang tamu dengan soko gedernya / tiang tunggal sebagai simbol bahwa Allah SWT itu Tunggal/Esa dan penghuni rumah harus senantiasa beriman dan bertakwa kepada-Nya;
-            gedhongan dan senthong / ruang keluarga dengan 4 buah soko guru-nya. Tiang berjumlah 4 sebagai penyangga utama bangunan rumah melambangkan agar penghuni rumah menyangga kehidupannya sehari-hari dengan mengendalikan 4 sifat manusia : amarah, lawamah, shofiyah, dan mutmainnah; 
-            pawon/dapur;
-            pakiwan (kamar mandi)sebagai simbol agar manusia membersihkan diri baik fisik maupun ruhani.   
4.        Benda-Benda Koleksi Museum Kretek
   Banyak Benda-benda peninggalan masa lalu dan sejarah rokok kretek yang tersimpan rapi di musium, tidak hanya itu di dalamnya juga terdapat miniatur-miniatur serta koleksi-koleksi benda untuk membuat rokok kretek, antara lain :

è Alat Penggulung Rokok Kretek
            Alat ini digunakan untuk menggulung rokok kretek, alat ini sangat tradisional karena zaman dulu belum ada mesin pembuat rokok.
            èMesin Ketik
            Mesin ketik kuno ini bermerk “Ideal” Produk S&N (Seidel & Nauman), yang digunakan untuk mengetik pada zaman dulu.
è Alat Perajang Cengkeh Glondong
            Alat ini digunakan untuk memotong cengkeh berukuran besar. Benda peninggalan ini merupakan sumbangan dari PR. Sogo Kudus pada tahun 1986.
è Alat Perajang Tembakau
            Alat ini digunakan untuk memotong tembakau menjadi tipis-tipis atau kecil-kecil.
è Gilingan Tembakau Tradisional
            Alat ini digunakan untuk menggiling tembakau dengan cara memasukkan tembakau kedalamnya, Lalu digiling menggunakan alat putar atau roda untuk memutar.
è Pembersih Atau Penyaring Tembakau Tradisional (Krondo)
            Alat ini digunakan untuk menyaring dan membersihkan tembakau dari debu atau kotoran-kotoran yang menempel di tembakau agar bersih dan higienis.
è Miniatur Alat Angkut Tradisional
            Kereta kuda Andong atau disebut juga Gerobak yang merupakan alat angkut tradisional pada zamannya. Gerobak Andong yang ditarik kuda berfungsi untuk mengangkut produksi rokok yang siap dikirim ke pasar.



5.        Pengelolaan Museum Kretek
         Pengelolaan musium kretek sekarang di kelola oleh pemda kudus sendiri musium kretek mempunyai dasar hukum, dasar hukum pengelolaan musium kretek antara lain :

1. SK Bupati tingkat II kudus tanggal 16 november 1986 No.1884 tentang penyerahan pengelolaan musium kretek kabupaten kepada PPRK
2.Peraturan daerah kabupaten kudus No.7 th 2003, tentang pembentukan kabupaten kudus, yang sekarang menjadi UPTD. Musium kretek di bawah dinas pariwisata daerah habupaten  kudus.
3.  Keputusan Bupati kudus No. 26 th 2003 tanggal 23 September 2003 tenteng penjabatan tugas pokok dan fungsi serta tata kerja dinas daerah kabupaten kudus. Mulai tahun 2010 pengelolaan museum kretek dibawah UPTD Dinas Pariwisata dan Keperbakalaan Kabupaten Kudus.


B.  Sejarah Rokok Kretek Kudus
1.    Asal Usul Rokok Kretek
Asal usul rokok kretek bermula dari penemuan Haji Djamari pada kurun waktu sekitar akhir abad ke-19. Awalnya, penduduk asli Kudus ini merasa sakit pada bagian dada. Ia lalu mengoleskan minyak cengkeh. Setelah itu, sakitnya pun reda. Djamari lantas bereksperimen merajang cengkeh dan mencampurnya dengan tembakau untuk dilinting menjadi rokok. Kala itu melinting rokok sudah menjadi kebiasaan kaum pria. Djamari melakukan modifikasi dengan mencampur cengkeh.Setelah rutin menghisap rokok ciptaannya, Djamari merasa sakitnya hilang.Ia menceritakan penemuan ini kepada kerabat dekatnya. Berita ini pun menyebar cepat. Permintaan "rokok obat" ini pun mengalir. Djamari melayani banyak permintaan rokok cengkeh. Lantaran ketika dihisap, cengkeh yang terbakar mengeluarkan bunyi "keretek", maka rokok temuan Djamari ini dikenal dengan "rokok kretek". Awalnya, kretek ini dibungkus klobot atau daunjagung kering. Dijual per ikat dimana setiap ikat terdiri dari 10, tanpa selubung kemasan sama sekali. Rokok kretek pun kian dikenal. Konon Djamari meninggal pada 1890. Identitas dan asal-usulnya hingga kini masih samar. Hanya temuannya itu yang terus berkembang. Sepuluh tahun kemudian, penemuan Djamari menjadi dagangan yang memikat, di tangan Nitisemito.
Nitisemito sendiri seorang buta huruf, dilahirkan dari rahim Ibu Markanah di desa Janggalan dengan nama kecil Rusdi. Ayahnya, Haji Sulaiman adalah kepala desa janggalan. Pada usia 17 tahun ia mengubah namanya menjadi Nitisemito.    
Nitisemito pulang kampung dan memulai usahanya membuat minyak kelapa, berdagang kerbau namun gagal.Ia kemudian bekerja menjadi kusir dokar sambil berdagang tembakau. Saat itulah dia berkenalan dengan Mbok Nasilah, pedagang rokok klobot di Kudus. Mbok Nasilah, yang juga dianggap sebagai penemu pertama rokok kretek, menemukan rokok kretek untuk menggantikan kebiasaan nginang pada sekitar tahun 1870. Di warungnya, yang kini menjadi toko kain Fahrida di Jalan Sunan Kudus, Mbok nasilah menyuguhkan rokok temuannya untuk para kusir yang sering mengunjungi warungnya. Kebiasaan nginang yang sering dilakukan para kusir mengakibatkan kotornya warung Mbok Nasilah, sehingga dengan menyuguhkan rokok, ia berusaha agar warungnya tidak kotor. Pada awalnya ia mencoba meracik rokok. Salah satunya dengan menambahkan cengkeh ke tembakau.Campuran ini kemudian dibungkus dengan klobot atau daun jagung kering dan diikat dengan benang.Rokok ini disukai oleh para kusir dokar dan pedagang keliling.Salah satu penggemarnya adalah Nitisemito yang saat itu menjadi kusir.Nitisemito lantas menikahi Nasilah dan mengembangkan usaha rokok kreteknya menjadi mata dagangan utama.Usaha ini maju pesat. Nitisemito memberi label rokoknya "Rokok Tjap Kodok Mangan Ulo" (Rokok Cap Kodok makan Ular). Nama ini tidak membawa hoki malah menjadi bahan tertawaan.Nitisemito lalu mengganti dengan Tjap Bulatan Tiga. Lantaran gambar bulatan dalam kemasan mirip bola, merek ini kerap disebut Bal Tiga. Julukan ini akhirnya menjadi merek resmi dengan tambahan Nitisemito (Tjap Bal Tiga H.M. Nitisemito). Bal Tiga resmi berdiri pada 1914 di Desa Jati, Kudus.Setelah 10 tahun beroperasi, Nitisemito mampu membangun pabrik besar diatas lahan 6 hektar di Desa jati. Ketika itu, di Kudus telah berdiri 12 perusahaan rokok besar, 16 perusahaan menengah, dan tujuh pabrik rokok kecil (gurem). Diantara pabrik besar itu adalah milik M. Atmowidjojo (merek Goenoeng Kedoe), H.M Muslich (merek Delima), H. Ali Asikin (merek Djangkar), Tjoa Khang Hay (merek Trio), dan M. Sirin (merek Garbis & Manggis).Sejarah mencatat Nitisemito mampu mengomandani 10.000 pekerja dan memproduksi 10 juta batang rokok per hari 1938. Kemudian untuk mengembangkan usahanya, ia menyewa tenaga pembukuan asal Belanda. Pasaran produknya cukup luas, mencakup kota-kota di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Kalimantan bahkan ke Negeri Belanda sendiri.Ia kreatif memasarkan produknya, misalnya dengan menyewa pesawat terbang Fokker seharga 200 gulden saat itu untuk mempromosikan rokoknya ke Bandung dan Jakarta.
Pertama muncul di Bandung pada tahun 1905, lalu menular ke Garut dan Tasikmalaya. Rokok jenis ini meredup ketika kretek Kudus menyusup melalui Majalengka pada 1930an, meski sempat muncul pabrik rokok kawung di Ciledug Wetan. Sedangkan di Jawa Timur, industri rokok dimulai dari rumah tangga pada tahun 1910 yang dikenal dengan PT H.M Sampoerna. Tonggak perkembangan kretek dimulai ketika pabrik-pabrik besar menggunakan mesin pelinting. Tercatat PT. Bentoel di Malang yang berdiri pada tahun 1931 yang pertama memakai mesin pada tahun 1968, mampu menghasilkan 6000 batang rokok per menit.
PT. Gudang Garam, Kediri dan PT HM Sampoerna tidak mau ketinggalan, begitu juga dengan PT Djarum, Djamboe   Bol, Nojorono dan Sukun di Kudus.                                                                                                                                                                                                                                                                                            
Manfaat rokok kretek yang ditemukan H. Jamhari pertama kali adalah sebagai obat gangguan tenggorokan dan asma. Karena rokok zaman dahulu langsung dibuat dan dinikmati misalnya dalam membuat rokok, H. Jamhari memetik tembakau langsung dari pohonnya, lalu dikeringkan dan diberi cengkeh lalu kemudian dibuat rokok.
     Tetapi rokok pada zaman sekarang tidak mempunyai manfaat dan tidak bisa dijadikan untuk obat. Karena dalam pembuatan rokok zaman sekarang sudah banyak berubah, terutama pada bahan-bahan pembuatannya. Oleh karena itu jika mengkonsumsi rokok zaman sekarang  dampaknya sangat besar, diantaranya dapat menyebabkan kanker, gangguan pada paru-paru, impotensi, gangguan janin pada ibu hamil, Dll.

2.     Wirausahawan Kudus Dalam Industri Rokok Kretek
a.    M. Niti Semito
Beberapa tahun sepeninggal Haji Jamahri, seorang warga Kudus bernama M.Niti Semito berpikir untuk memasarkan rokok kretek secara massal.
Produksi pertama dimulai pada 1906 dengan kategori rokok terbatas pada jenis klobot kretek. Perusahaannya didaftarkan pada 1908 dengan nama NV Bal Tiga Nitisemito.
Tapi nama Nitisemito terkenal bukan hanya disebabkan ia adalah pionir komersialisasi rokok kretek di Indonesia, namun lebih karena strategi pemasarannya yang sangat kreatif, yang dipercaya mengilhami banyak perusahaan sejenis hingga sekarang. Beberapa dari strategi kreatif tersebut adalah: penawaran free gift dan special offer kepada konsumen setia; pemberian hadiah bagi konsumen yang mengembalikan bungkus rokok Bal Tiga; promosi berjalan menggunakan bus dan pesawat; mensponsori teater keliling; dan pembuatan silver cases serta korek berlogo Bal Tiga.
Nitisemito bahkan menjadi orang Indonesia pertama yang tidak pernah mendapatkan pendidikan formal namun mampu mempekerjakan orang asing, yakni H.J. Voren dan Poolman, keduanya akuntan berkebangsaan Belanda. Lahir di Desa Jegalan Kudus pada 1874, Nitisemito meninggal di usia 79 tahun. Oleh sejarawan dan pengamat rokok, ia dianugerahi gelar ”Bapak Kretek Indonesia
b.   Koo Djee Siang
Nojorono didirikan tahun 1932. Pabrik ini berlokasikan di Jl. Jenderal.Sudirman No. 86-b. Perusahaan inilah yang memproduksi merek terkenal Minak Djinggo.
Berbeda dengan perusahaan lain yang umumnya dikuasai oleh satu keluarga secara turun-temurun, Nojorono dikendalikan secara kolektif oleh lima keluarga sekaligus. Awalnya adalah Tjoa Kang Hay, yang pernah bekerja untuk Nitisemito, mengajak saudaranya, Tan Tjiep Siang dan Tan Kong Ping untuk mendirikan Trio.Setelah itu Kang Hay mencari partner baru di Kudus, yakni Ko Djie Siong dan Tan Djing Dhay, untuk mendirikan Nojorono.
Didirikan pada 1932, inovasi terbesar Nojorono selama ini adalah rokok tahan air di mana ia juga memiliki hak paten atas temuannya ini. Produk ini dimungkinkan berkat penggunaan parafin dalam proses produksi rokok. Karena keunggulan water proof-nya ini, rokok produksi Nojorono sangatlah populer di kalangan pelaut dan nelayan.
c.    H. A Ma’ruf
Djambu Bol didirikan tahun 1937. Pabrik ini berlokasikan di Jl. Raya kudus-pati. Berdiri sebelum Indonesia medeka, Pabrik Rokok Jambu Bol sempat terhenti ketika Jepang menginvasi Indonesia pada 1942. Perusahaan ini menemukan pijakannya kembali pada 1949 dengan memproduksi rokok kretek paper-wrapped, sebagai pengganti jenis klobot yang diproduksinya sejak awal.
Berbeda dengan perusahaan lain yang dimiliki oleh warga keturunan Cina, Djambu Bol adalah perusahaan pribumi terbesar di Indonesia yang pernah tercatat dalam sejarah. Pendirinya adalah seorang warga Kudus bernama Haji Roesydi Ma’roef. Berbeda pula dengan perusahaan lain, Djambu Bol berkonsentrasi hanya pada pasar luar Jawa, terutama Sumatera Utara yang mencapai 95% dari pangsa pasarnya. Sampai sekarang Djambu Bol tidak pernah menggunakan mesin melainkan lebih memilih mempertahankan tradisi rokok hand-made atau buatan tangan

           
d.   Oei Wie Gwan
Djarum didirikan tahun 1951.Nama aslinya adalah Djarum Gramophon. Oleh Oei Wie Gwan nama ini diubah menjadi Djarum pada 1951. Berbeda dengan perusahaan kretek umumnya, Djarum bukanlah perusahaan keluarga, pemilik sekarang tidak mempunyai hubungan darah sedikitpun dengan pendiri pertamanya. Wie Gwan adalah tipikal pengusaha rokok sejati yang selalu melibatkan diri dalam proses produksi, misalnya dengan mencampur sendiri tembakau dengan saus.
Dua merek pertama perusahaan ini diberi nama Djarum dan Kotak Ajaib. Awalnya hanya dipasarkan di wilayah Kudus, namun setelah kedatangan Wie Gwan diekspansi ke wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.Setelah sempat menjadi yang terbesar di 1967, Djarum mulai menjajal pasar luar negeri pada 1972.Langkah ini mengantarnya menjadi merek kretek paling populer di luar negeri.
Tiga merek terkenal dari Djarum berikutnya adalah Djarum Filter (1976), Djarum Super (1981), dan Djarum Cigarillos –kretek berbentuk cerutu pertama di dunia.Untuk yang terakhir ini, Djarum belajar dari Oud Kampen Cigarillo Factory di Belanda.Pada 1963, Wie Gwan meninggalkan perusahaannya kepada kedua anaknya, Budi dan Bambang.

e.    M. Atmowijoyo
M. Atmowijoyo adalah pendiri perusahaan rokok Goenoeng & Klapa yang didirikan tahun 1913. Jika Anda mengira bahwa HM Sampoerna adalah perusahaan kretek tertua di Indonesia yang masih bertahan hingga sekarang, mungkin Anda mau merevisi hal tersebut.Pasalnya pada 1913 berdiri sebuah pabrik rokok di Kudus, namanya Goenoeng & Klapa (Gunung dan Kelapa).
Didirikan oleh Mohamed Atmowijoyo, perusahaan ini mempertahankan apa saja yang lama sudah ditinggalkan perusahaan-perusahaan rokok. Ia hanya memproduksi klobot, kebalikan dari perusahaan lain yang memiliki produk beragam. Ia juga masih menggunakan tali pengikat rokok jauh tertinggal dari teknologi pembungkusan yang berkembang. Dan rokok tersebut tetap dikerjakan dengan tangan sepenuhnya tanpa memiliki mesin satupun.Satu hal lagi yang kontroversial adalah resep saus perusahaan ini tidak dirahasiakan melainkan dipajang di papan tulis pada dinding pabrik.
Sekarang, karyawan Gunung dan Kelapa hanya berjumlah 35 orang dengan produk yang hanya dikenal secara terbatas di wilayah Kudus. Harga rokoknya pun berbeda jauh dibanding merek lain, ketika Dji Sam Soe dijual dengan harga Rp. 3.500, Gunung dan Kelapa bisa didapat dengan hanya Rp. 400. Satu-satunya hal yang sama antara perusahaan ini dengan HM Sampoerna adalah bahwa mereka.
        

























C.  Pembuatan Rokok Kretek

Rokok kretek adalah rokok yang menggunakan tembakau asli yang dikeringkan, dipadukan dengan saus cengkeh dan saat dihisap terdengar bunyi kretek-kretek.Rokok kretek berbeda dengan rokok yang menggunakan tembakau buatan.Jenis cerutu merupakan simbol rokok kretek yang luar biasa, semuanya alami tanpa ada campuran apapun, dan pembuatannya tidak bisa menggunakan mesin.Masih memanfaatkan tangan pengrajin. Dahulu kala pembuatan rokok hanya menggunakan tangan/tradisional banyak orang-orang yang bekerja untuk membuat rokok diperusahaan manapun. Tetapi seiring berjalannya waktu pembuatan rokok tradisional sekarang makin langka/ditinggalkan karena adanya pembuatan rokok dengan menggunakan alat-alat modern.
          Banyak perusahaan rokok yang sekarang menggunakan alat-alat yang canggih karena dinilai cukup higienis dan cepat dari pada menggunakan alat-alat tradisional.
Jenis-Jenis Rokok Kretek
1.      Jenis rokok kretek dibagi menjadi 4 bagian yaitu :
a.    Rokok Kretek Tradisional
               Rokok kretek tradisional adalah rokok kretek yang dibuat menggunakan tangan manusia dan tidak menggunakan mesin. Contoh rokok kretek tradisional

b.   Jenis Rokok Kretek Klobot
                Rokok Klobot adalah rokok yang cara membuatnya menggunakan tangan manusia dan masih menggunakan alat-alat tradisional karena tidak ada mesin pengolah rokok pada saat itu. Bungkus rokok ini terbuat dari daun jagung. Tetapi seiring berkembangnya zaman, proses pembuatan rokok ini sudah ditinggalkan karena sudah ada kemajuan teknologi di bidang pembuatan rokok, tidak heran rokok ini sudah langka bahkan saat ini sudah tidak ada pabrik atau indusri yang memproduksi rokok jenis ini. Contoh rokok kretek klobot,

c.    Rokok Sigaret Tangan
                Rokok sigaret tangan adalah rokok yang dibuat menggunakan tangan manusia dan tidak menggunakan mesin. Tapi pada kemasan rokok menggunakan kertas dan biasanya pembungkus rokok itu sendiri menggunakan kertas yang bersih dan higienis. Contoh rokok sigaret tangan,

d.   Rokok Sigaret Mesin
                Rokok sigaret mesin adalah rokok yang proses pembuatannya melalui mesin dan sedikit campur tangan oleh manusia. Biasanya alat pembungkus dan kemasan rokok jenis ini sudah menggunakan kertas yang bersih. Rokok jenis ini sangat mudah didapat dan mudah ditemui karena rokok jenis ini mudah, cepat dan higienis dalam pembuatannya disamping itu harga rokok jenis ini sangat terjangkau oleh semua kalangan masyarakat.

2.      Perkembangan Rokok Kretek
a.    Cara pembuatan rokok kretek tradisional
Proses pembuatan rokok kretek tradisional adalah proses pembuatan dengan cara digiling atau dilinting dengan menggunakan tangan dan atau alat bantu sederhana yang tidak menggunakan mesin.
b.   Rokok Sigaret Mesin
Rokok sigaret mesin adalah rokok yang proses pembuatannya melalui mesin dan sedikit campur tangan oleh manusia. Biasanya alat pembungkus dan kemasan rokok jenis ini sudah menggunakan kertas yang bersih. Rokok jenis ini sangat mudah didapat dan mudah ditemui karena rokok jenis ini mudah, cepat dan higienis dalam pembuatannya disamping itu harga rokok jenis ini sangat terjangkau oleh semua kalangan masyarakat. Contoh rokok sigaret mesin,
3.      Peran Industri Rokok Kretek
a.    Bagi tenaga kerja
Industri rokok kretek di Kudus sangat berarti dan bermanfaat bagi tenaga kerja, Karena dengan adanya industri rokok kretek di Kudus bisa menciptakan lapangan pekerjaan dan mengurangi angka pengangguran.
Selain itu sebagian masyarakat Kudus bekerja sebagai buruh pabrik rokok sehingga dapat dikatakan bahwa industri rokok di kota Kudus sebagai tonggak perekonomian yang sangat penting. Karena sebagai lapangan pekerjaan, industri rokok menyerap banyak tenaga kerja. Sehingga dapat mengurangi angka pengangguran di Kudus khususnya dan Indonesia pada umumnya.
b.   Bagi perekonomian masyarakat
Industri rokok yang ada di kota Kudus yang tempat produksinya biasa disebut pabrik ini sangatlah penting sekali bagi perekonomian masyarakat, dimana sebagian mata pencaharian utama mereka memang berada di tempat itu. Sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup mereka dari upah, gaji yang diterima dari bekerja. Pabrik rokok yang bekerja pada bidang industri ini merupakan lapangan pekerjaan yang begitu banyak pekerka, selain itu juga struktur organisasinya bersifat formal(resmi), terdapat pemimpin, wakilnya, karyawan, bagian keamanan, dan buruh. Terdapat aturan dan sanksi juga yang dikenakan pada semua orang yang bekerja didalamnya, yang disesuaikan berdasarkan jabatanya sebagai tempat memproduksi barang-barang, pabrik rokok yang ada di Kudus ini dapat digolongkan kedalam suatu lembaga yakni lembaga perekonomian karena telah memenuhi fungsi manifest sebagai lembaga ekonomi, yakni selain para pekerja industri rokok dan masyarakat yang berada dekat dengan lokasi terebut, yang merasa diuntungkan dengan keberadaanya,
Bukan hanya orang-orang yang bekerja di pabrik rokok itu saja yang diuntungkan dengan adanya industri rokok ini melainkan juga dengan masyarakat yang tempat tinggalnya berada di dekat lokasi rokok itu sendiri. Mereka dapat membuka usaha kecil kecilan yang dapat memberikan keuntungan yang cukup lumayan besarnya untuk menambah pendapatan mereka sehari-hari, bahkan ada yang mnjadikannya sebagai mata pencaharian utama, antara lain, membuka usaha tempat parkir epeda atau sepeda motor, membuka usaha warung makan, menjual sembako dan lain sebagainya.
Negara pun ikut juga dapat merasakanya secara tidak langsung melalui pajak. Untuk setiap harinya industri rokok PT. Djarum saja pemasukan ke kas Negara mencapai kurang lebih hampir 1 milyar, apalagi jika ditambah dengan tiga pabrik rokok terbesar di kota Kudus (PT. Nojorono, PB. Sukun, dan PR. Jambu bol).
Bayangkan saja apa yang terjadi apabila industri rokok tersebut ditutup, dengan alas an kesehatan imana rokok dapat menyebabkan impotensi, serangan jantung, dan gangguan kehamilan dan janin, berapa banyak orang yang merasa dirugikan khususnya para buruh pabrik rokok tersebut, secara otomatis akan memperbanyak angka pengangguran di negeri ini. Mungkin karena itulah sampai saat ini industri rokok masih tetap bertahan bahkan teru berkmbang meskipun rokok itu sendiri dapat membahayakan kesehatan. Bahkan kita tidak peril sampai berfikir sejauh ke arah itu (brfikir apa yang terjadi apabila pabrik rokok di tutup), kita lihat saja fenomena yang terjadi ketika pekerjaan para buruh pabrik rokok itu dikurangi.
Maka gaji atau upah merekapun akan ikut berkurang sehingga banyak para buruh pabrik rokok yang didominasi oleh wanita tersebut mengeluh akan kondisi seperti itu. Apalagi jika mereka itu adalah tulang punggung bagi keluarganya, sungguh menjadi beban ekonomi yang cukup berat baginya seperti halnya yang dialami oleh seorang narasumber yang saya wawancarai. Padahal buruh pabrik rokok menduduni peringkat pertama di bandingkan dengan yang lain dalam jumlahnya pada sebuah industri rokok.
Negara pun ikut juga dapat merasakanya secara tidak langsung melalui pajak. Untuk setiap harinya industri rokok PT. Djarum saja pemasukan ke kas Negara mencapai kurang lebih hampir 1 milyar, apalagi jika ditambah dengan tiga pabrik rokok terbesar di kota Kudus (PT. Nojorono, PB. Sukun, dan PR. Jambu bol).
Bayangkan saja apa yang terjadi apabila industri rokok tersebut ditutup, dengan alas an kesehatan imana rokok dapat menyebabkan impotensi, serangan jantung, dan gangguan kehamilan dan janin, berapa banyak orang yang merasa dirugikan khususnya para buruh pabrik rokok tersebut, secara otomatis akan memperbanyak angka pengangguran di negeri ini. Mungkin karena itulah sampai saat ini industri rokok masih tetap bertahan bahkan teru berkmbang meskipun rokok itu sendiri dapat membahayakan kesehatan. Bahkan kita tidak peril sampai berfikir sejauh ke arah itu (brfikir apa yang terjadi apabila pabrik rokok di tutup), kita lihat saja fenomena yang terjadi ketika pekerjaan para buruh pabrik rokok itu dikurangi.
Maka gaji atau upah merekapun akan ikut berkurang sehingga banyak para buruh pabrik rokok yang didominasi oleh wanita tersebut mengeluh akan kondisi seperti itu. Apalagi jika mereka itu adalah tulang punggung bagi keluarganya, sungguh menjadi beban ekonomi yang cukup berat baginya seperti halnya yang dialami oleh seorang narasumber yang saya wawancarai. Padahal buruh pabrik rokok menduduni peringkat pertama di bandingkan dengan yang lain dalam jumlahnya pada sebuah industri rokok.


BAB III
PENUTUP

1.        Simpulan
     Kota Kudus merupakan kota kretek yang menyumbang cukai rokok terbesar untuk negara Indonesia dengan menjamurnya pabrik-pabrik rokok di Kudus.
     Pendirian musium kretek diprakarsai oleh bapak Soepardjo Rustam untuk menyelamatkan dokumen-dokumen dan sejarah asal-usul rokok dengan ditemukannya potensi dan faktor sejarah di Kudus.
     Kesimpulan itulah yang penulis Berikan untuk para pembaca laporan Bahasa Indonesia ini.

2.        Saran
Saya sebagai penulis menyarankan kepada pembaca sebagai berikut :
a)   Sebagai obyek wisata yang banyak menyajikan koleksi-koleksi yang kita temui di museum kretek.
b)   Memberitahukan kepada masyarakat tentang museum kretek pada masa lalu.
c)    Obyek penelitian bagi para pelajar maupun mahasiswa yang ingin mempelajari lebih dalam tentang rokok kretek di Kudus.
d)   Memberi informasi tentang alat yang digunakan dalam pembuatan rokok kretek secara tradisional.

Demikianlah saran telah penulis buat untuk melengkapi makalah yang penulis buat ini.



DAFTAR PUSTAKA

Maryanto. 2008.   Januari 2008)
Ruhardjo, Slamet dkk. 1996. Pola Pemukiman Tradisional Daerah Perkotaan Kawasan Pantai Utara Jawa Tengah. Semarang : Depdikbud Jawa Tengah
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional Edisi 4, 2007 Balai Pustaka Jakarta
Kamus Besar Bahasa Indonesia, Pusat Bahasa Departemen Pendidikan NasionalEdisi 2, 1993 Balai Pustaka Jakarta


1 komentar: